Bencana alam terbaru di Indonesia adalah ‘wake-up call’, kata para pemerhati lingkungan

Tahun baru saja dimulai, tetapi Indonesia telah dilanda gempa bumi yang fatal, tanah longsor yang mematikan, dan letusan gunung berapi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan telah terjadi 185 bencana alam yang mengejutkan di Indonesia dalam tiga minggu pertama tahun 2021 saja.

“Sebagian besar berupa banjir, angin topan, dan tanah longsor,” kata Profesor Wiku Adisasmito dari BNPB yang juga Juru Bicara Gugus Tugas Nasional Covid-19 dalam konferensi pers pekan ini.

Pada bulan Januari tahun lalu, Indonesia mencatat 297 bencana, di antaranya banjir di wilayah metropolitan Jakarta dan tanah longsor di Jawa Barat.

Tetapi bencana tahun ini lebih mematikan — sejauh ini 166 orang meninggal pada Januari 2021, dibandingkan dengan 91 orang yang kehilangan nyawa dalam bencana alam pada Januari 2020.

Bencana lingkungan bukanlah hal yang aneh di Indonesia, dengan negara yang mencatat total 2.291 bencana pada tahun 2020.

Kepulauan ini juga terletak di Cincin Api Pasifik, di mana lempeng tektonik bertabrakan, menyebabkan aktivitas gunung berapi yang sering terjadi serta gempa bumi.

Namun para pemerhati lingkungan mengatakan perusakan hutan dan perubahan iklim berdampak pada parahnya bencana.

Greenpeace Indonesia mengatakan kepada ABC bahwa banjir, tanah longsor, dan kebakaran hutan telah mendominasi daftar bencana di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, terutama di daerah di mana kondisi hutan “sudah kritis”.

“Ini sangat terkait dengan akumulasi kerusakan hutan yang berdampak pada perubahan iklim,” kata Arie Rompas, ketua tim kampanye hutan Greenpeace Indonesia.

“Jadi ekosistemnya terganggu dan ini berimplikasi pada banjir, tanah longsor, kekeringan, dan kebakaran hutan.”

Lebih dari satu juta orang mengungsi

Kalimantan Selatan di pulau Kalimantan mengumumkan keadaan darurat pekan lalu, setelah hujan lebat dan banjir membuat puluhan ribu orang mengungsi.

“Sepanjang hidup saya, ini adalah banjir terparah yang pernah ada,” kata warga setempat Ratna Dewi Sartika kepada ABC.

Dikatakannya, di beberapa daerah ketinggian air naik hingga tiga meter dan banyak warga yang terjebak di dalam rumahnya.

Pada Jumat pekan lalu, gempa berkekuatan 6,2 skala Richter di Sulawesi Barat menewaskan sedikitnya 90 orang dan menyebabkan ribuan orang kehilangan tempat tinggal.

Beberapa hari setelah gempa maut itu, gunung berapi Semeru di Jawa Timur meletus, menyemburkan awan abu panas sejauh 4,5 kilometer.

Baca Berita Menarik Lainnya di GenBerita.com

Desa-desa di pegunungan telah diberitahu untuk tetap waspada terhadap aktivitas gunung berapi yang sedang berlangsung.

Dan awal bulan ini, tanah longsor dilaporkan terjadi di Desa Cihanjuang di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, 150 kilometer tenggara Jakarta.

Otoritas setempat di Jawa Barat mengatakan total 40 korban tewas akibat longsor telah ditemukan.

BNPB mengatakan per 21 Januari, setidaknya 166 orang telah meninggal, lebih dari 1.200 orang terluka dan lebih dari 1,3 juta orang telah mengungsi secara total karena serangkaian bencana.

Awal pekan ini, Presiden Joko Widodo mengunjungi Banjarmasin di Kalimantan Selatan untuk memantau banjir yang telah menggenangi daerah tersebut selama lebih dari seminggu.

Dia mengatakan pulau Kalimantan tidak mengalami banjir dalam setengah abad.

“Curah hujan sangat tinggi selama hampir 10 hari berturut-turut, sehingga daya tampung Sungai Barito meluap hingga 10 kecamatan,” kata Jokowi saat konferensi pers online, Senin.

Sehari kemudian, Bapak Widodo juga mengunjungi tempat-tempat dan korban gempa di Sulawesi Barat.

Ridwan Alimuddin, seorang warga di Sulawesi Barat, mengatakan respon pemerintah daerah “belum optimal”.

Dikatakannya, bantuan tersebut tampaknya lebih difokuskan di Mamuju, ibu kota Provinsi Sulawesi Barat, sedangkan wilayah yang paling terdampak adalah tiga kabupaten yang dekat dengan episentrum.

“Kami bisa melihat keterlambatan [pendistribusian bantuan], banyak pengungsi telah memasang papan tanda di jalan untuk meminta sumbangan,” kata Alimuddin kepada ABC.

“Baru-baru ini orang-orang berebut paket bantuan ketika mobil yang mendistribusikan bantuan datang.”

Indonesia telah kehilangan jutaan hektar hutan

Sementara Pemerintah Indonesia mengatakan banjir disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, organisasi dan aktivis lingkungan mengatakan penggundulan hutan dan perusakan lingkungan lainnya juga menjadi penyebab beberapa bencana baru-baru ini.

Aida Greenbury, juru kampanye nol deforestasi yang berbasis di Sydney, mengatakan banjir telah menjadi sangat sering dalam 30 tahun terakhir, termasuk di pulau Kalimantan, karena lahan dan hutan diubah menjadi tambang atau perkebunan kelapa sawit.

“Salah satu penyebab tingginya emisi yang kami derita saat ini adalah deforestasi,” kata Ibu Greenbury, yang berasal dari Indonesia.

Menurut Global Forest Watch, Indonesia kehilangan 324.000 hektar hutan primer, setara dengan 187 megaton emisi karbon dioksida, pada 2019.

Data tersebut juga menyebutkan Indonesia telah kehilangan 9,4 juta hektar hutan primer antara tahun 2001 hingga 2019.